Artikel

Universitas sebagai Pusat Belajar

Budi Widianarko, Rektor Unika Soegijapranata, menulis tentang Universitas sebagai Rumah Belajar (Kompas, 1 Maret 2014 ). Beliau menekankan pentingnya pendidikan, yang merupakan dharma pertama dalam rumusan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Baiklah, kita terima itu. Pertanyaannya, pendidikan dengan kualitas seperti apa yang terselenggara di perguruan tinggi Indonesia?

Selanjutnya, kita juga perlu bertanya, apakah universitas hanya akan menjadi tempat mempelajari ilmu pengetahuan yang sudah dihasilkan orang lain? Tentunya tidak, ‘kan? Universitas harus menjadi tempat belajar bagaimana menghasilkan ilmu pengetahuan itu. Universitas semacam ini mestinya ditopang oleh dosen, fasilitas, dan interaksi dosen-mahasiswa yang berkualitas.

Di mana kah di negeri ini terdapat universitas yang merupakan Pusat Belajar seperti itu?

Berikut adalah 10 perguruan tinggi yang pantas disebut sebagai Pusat Belajar, yang telah menunjukkan bahwa dosen dan mahasiswanya tidak hanya belajar ilmu pengetahuan yang sudah dihasilkan orang lain, tetapi juga belajar bagaimana menghasilkan ilmu pengetahuan (dalam bentuk paper, bab dalam buku, dan lain-lain). Data dicuplik dari Scopus, tanggal 19-02-2014.

No

Perguruan Tinggi

Kota

Paper & Bab dlm Buku

Lainnya

Total

1.

Institut Teknologi Bandung

Bandung

1757

1602

3359

2.

Universitas Indonesia

Depok

1951

1004

2955

3.

Universitas Gadjah Mada

Yogyakarta

1295

404

1699

4.

Institut Pertanian Bogor

Bogor

1037

223

1260

5.

Institut Teknologi Sepuluh November

Surabaya

525

382

907

6.

Universitas Diponegoro

Semarang

456

160

616

7.

Universitas Airlangga

Surabaya

475

65

540

8.

Universitas Padjadjaran

Bandung

433

128

561

9.

Universitas Hasanuddin

Makassar

419

96

515

10.

Universitas Brawijaya

Malang

405

93

498

HG, 10-03-2014

Advertisements

Kreasi yang Tak Lazim**

Seruan untuk Generasi Muda Indonesia

Oleh: Zulkaida Akbar*

Black Mountain College, didirikan pada tahun 1933 di North Carolina USA menjadi satu titik penting dalam sejarah pendidikan di Amerika. Black Mountain College (BMC) didirikan dengan semangat perlawanan terhadap model pendidikan tradisional Amerika saat itu. BMC mendidik siswanya dengan semangat kebebasan, lintas disiplin, seni, tidak memisahkan antara bekerja dan bermain, serta hubungan egaliter antara guru dan siswa dimana guru dan siswa sama-sama bekerja dalam mengurus kampus (bangunan, administrasi, hingga makan siang).

Meski kini Black Mountain College tak lagi ada, namun jejaknya tertoreh cukup dalam pada sejarah perkembangan seni di Amerika. Puluhan seniman, penulis, pemikir dan penyair ternama dihasilkan oleh College yang bahkan tak pernah terakreditasi serta dijalankan dengan anggaran minim ini.

Black Mountain College adalah salah satu hasil “kreasi yang tak lazim”. Sepanjang sejarah peradaban manusia, berderet kreasi yang tak lazim dengan berbagai rupa: sistem, teknologi, kepemimpinan politik, artefak, hingga pemikiran. Umumnya, kreasi tak lazim ini lahir dari kejenuhan atau kebuntuan. Namun, ada pula yang dihasilkan oleh seorang jenius yang mampu meneropong masa depan. Beberapa dari kreasi yang tak lazim ini menjadi kontroversi sesaat dan lantas lenyap. Beberapa lainnya, mampu menjadi solusi atas persoalan di masyarakat, dan segelintir di antaranya bahkan mampu menghela arah peradaban.

Lantas, ada satu pertanyaan yang mengemuka di benak saya : ada berapa banyak kreasi yang tak lazim di Negeri Indonesia kita tercinta? Kalau rentang waktunya adalah satu abad, kita masih menemukan banyak hal seperti Madilog, Indonesia Menggugat, Taman Siswa, Syarekat Islam, Tetralogi Pulau Buru, Pancasila, gaya kepemimpinan Sultan HB IX, dan sebagainya. Kalau saya perpendek rentang waktunya menjadi 20 tahun terakhir, yang muncul otomatis di benak saya hanyalah N-250 dan visi negara kepulauannya Habibie. Sementara di luar sana, bermunculan banyak kreasi tak lazim mulai dari facebook hingga mesin puluhan trilyun bernama Large Hadron Collider (LHC).

Kita tahu bahwa negara kita dirundung persoalan pelik, dan persoalan luar biasa tak bisa diatasi dengan cara biasa. Singkat kata, negara kita memerlukan banyak sekali kreasi yang tak lazim. Lantas, dari mana orang-orang yang mampu menciptakan kreasi yang tak lazim (kita sebut saja sang pendobrak) berasal?

Steve Jobs, memberi judul “Connecting The Dots” pada pidatonya di depan wisudawan Stanford. Steve Jobs bercerita tentang riwayat hidupnya sambil menekankan beberapa titik dalam perjalanan hidupnya yang mempengaruhi kiprahnya dalam perusahaan dan industri komputer. Contohnya adalah satu kelas yang mengajarkan tipografi yang pernah diambil Steve Jobs yang akhirnya mempengaruhi bentuk PC seperti yang kita kenal saat ini.

Mahasiswa Fisika tahu betul bahwa saat belajar relativitas khusus, hampir semua buku mengawalinya dengan konsep tentang sinkronisasi waktu, dilanjutkan dengan banyak ilustrasi yang mengambil latar gerbong kereta. Ternyata, hal ini berasal dari pengalaman hidup Einstein yang sering melewati stasiun dengan Jam besar yang harus selalu disetel ulang agar selalu presisi. Singkat cerita, kita tidak pernah tahu di penggal kisah hidup sebelah mana pada diri seseorang yang menjadi “titik ungkit” bagi kiprahnya di masa depan sebagai sang pendobrak.

Terkadang, ciri-ciri sang pendobrak bisa “diterawang” sejak dini. Saya teringat, meski lamat-lamat akan perkataan seorang fisikawan yang mengatakan bahwa seseorang yang belum memiliki “masterpiece” sebelum usia 30 tidak akan pernah memiliki masterpiece seumur hidupnya. Atau dengan kata lain, seseorang yang menjalani 30 tahun pertama hidupnya dengan lurus-lurus saja, selamanya akan menjadi orang-orang biasa saja. Benarkah?

Memang ada beberapa kisah yang menguatkan pernyataan fisikawan di atas. Jauh sebelum menjadi orang terkaya, ketika kuliah Bill Gates pernah menulis algoritma “pancake sorting” yang menjadi algoritma tercepat, membentuk perusahaan bersama Paul Allen saat 17 tahun serta membantu menulis program penjadwalan kelas dimana Bill Gates selalu menempatkan dirinya di kelas yang dipenuhi gadis-gadis menarik. Pencapaian-pencapaian kecil inilah yang turut membentuk karya besar Bill Gates : Microsoft.

Negara Indonesia membutuhkan banyak sekali sang pendobrak dari berbagai bidang, kendati demikian sampai detik ini saya belum bisa merumuskan dengan lugas seperti apakah garis perjalanan hidup yang mampu melahirkan sang pendobrak?

Karenanya, saya ingin mengakhiri tulisan singkat ini dengan satu nasihat untuk generasi muda : Bertindaklah! karena kita tidak pernah tahu bagian mana dari kisah hidup kita yang akan mengantarkan kita menjadi sang pendobrak. Bergumullah dengan paper sejak dini jika ingin menjadi ilmuwan pendobrak dikemudian hari, jangan takut berpetualang dari satu simposium ke simposium lain! Berdaganglah sejak awal jika ingin menjadi pebisnis hebat yang akan menggerakan perekonomian bangsa! Menyelamlah ke dalam pertarungan-pertarungan politik jika ingin menjadi politisi lihai dan handal (asal lakukan dengan tanpa mengesampingkan moralitas). Dan berbuatlah untuk lingkungan sekitar, dalam bentuk apapun jika kelak ingin menjadi Negarawan Pendobrak! Jangan tunggu hingga lulus, atau mendapat pekerjaan mapan karena bisa jadi tanpa sadar waktu yang menjadi “titik ungkit” bagi calon sang pendobrak telah terlewati sia-sia.

*Zulkaida Akbar adalah Alumnus Program S1 Fisika ITB Angkatan 2003. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa program Doktoral bidang Fisika di Florida State University.

**Tulisan ini diterbitkan di VicaraVeritas.com pada 28-01-2014

Mengapa Orang Harus Mempunyai Cita-Cita**

Tulisan ini ditujukan kepada anak-anak sekolah dasar usia 10-12 tahun.

Oleh: Nisa Faridz*

Mengapa kita harus belajar? Mengapa kita harus rajin membaca? Mengapa kita harus disiplin dan tepat waktu? Mengapa perlu belajar bahasa asing (misalnya bahasa Inggris)?

Jawabannya: karena kita punya cita-cita.

Coba pikirkan apa cita-citamu. Kalau masih bingung apa cita-citamu, Kakak beri contoh cita-cita sahabat Kakak ya. Namanya Indri dan ketika SD ia bercita-cita menjadi dokter hewan. Ia suka sekali binatang. Suatu hari ia menonton TV yang menyiarkan bagaimana dokter hewan menyelamatkan seekor macan Sumatra di kebun binatang, dan Indri pun terinspirasi: “€œAku ingin menjadi dokter hewan seperti itu,” ujarnya.

Seperti Indri, seringkali cita-cita kita dipengaruhi oleh sekitar kita: apa yang kita saksikan di TV, orang-orang hebat di sekitar kita, atau tokoh yang kita baca di koran. Ada yang bercita-cita menjadi guru seperti ayahnya, ada juga yang ingin menjadi atlet yang mengangkat piala kemenangan dan mengibarkan merah putih, seperti yang kita lihat di TV.

Kalau masih bingung mau jadi apa ketika kamu besar nanti, coba juga kunjungi museum, baca buku atau komik tentang tokoh ilmuwan dan penjelajah dunia, pilih film atau siaran TV yang menceritakan perjuangan orang mencapai cita-cita; biasanya itu akan membantu menemukan cita-citamu. Guru di sekolah pun mungkin bisa membantu mencari inspirasi itu.

Tetapi tunggu dulu, apakah cita-cita perlu dipikirkan sekarang, sejak SD atau SMP?

Sejak kecil Indri rajin belajar dan membaca berbagai buku dan majalah, terutama tentang kehidupan binatang. Ia diajarkan ibunya bahwa untuk mencapai cita-citanya, syarat pertamanya adalah harus membaca yang banyak. Membaca itu harus dilatih. Jika tidak dibiasakan membaca berbagai buku sejak kecil, ketika dewasa kita akan kesulitan untuk membiasakan diri membaca. Dan kalau malas membaca, pasti Indri sulit untuk lulus kuliah dan bisa-bisa cita-citanya menjadi dokter hewan pun gagal diraih.

Menjadi dokter hewan pasti susah, pikir Indri. Aku tidak hanya harus pintar, tetapi harus berani. Bayangkan kalau aku takut macan, bagaimana bisa aku membantu macan yang sakit jika aku tidak berani dekat-dekat macan? Indri pun mencari cara bagaimana agar ia terlatih untuk menjadi pemberani.

Sejak ia bercita-cita menjadi dokter hewan, Indri juga terdorong untuk belajar bahasa Inggris. Apa hubungannya? Ia suka mencari informasi di Internet, cerita tentang dokter hewan dan binatang-binatang di Afrika, atau bahkan di Kutub Utara. Cerita yang didapatnya banyak ditulis dalam bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia. Maka Indri pun mulai belajar bahasa Inggris.

Nah, sampai sini terbayang kan bagaimana pentingnya cita-cita? Cita-cita Indri membuatnya menjadi lebih semangat belajar. Iapun tidak pernah bingung bagaimana memanfaatkan waktu liburannya. Ia pergi ke kebun binatang, menawarkan diri untuk bekerja sukarela membantu petugas di sana merawat binatang, belajar bahasa Inggris, dan iapun sering pergi ke perpustakaan dan museum. Cita-cita sangat membantu kita mengisi hari-hari dengan kegiatan yang berguna.

Lalu, bagaimana kalau cita-cita kita berubah?

Tidak apa-apa. Indri sekarang sudah berusia empat puluh tahun, mungkin seusia orangtuamu. Profesinya bukan dokter hewan. Ia adalah seorang arsitek. Apakah ia gagal mencapai cita-citanya? Tidak. Semangatnya untuk mencapai cita-cita tidak pernah padam walaupun ia tidak jadi kuliah di fakultas kedokteran hewan. Karena sejak kecil selalu antusias belajar, Indri menjadi arsitek yang sukses. Saat ini Indri merancang kebun binatang, seperti yang diimpikannya ketika kecil.

Jadi, jangan takut dan jangan ragu untuk mempunyai cita-cita. Sebaliknya, kita harus punya cita-cita. Dengan cita-cita, kita jadi lebih mengerti mengapa kita harus rajin membaca buku dan berita, mengapa kita harus disiplin, bahkan harus menjaga kesehatan. Cita-cita akan membantu kita lebih semangat belajar, lebih berani, dan tidak mudah menyerah.

Suatu hari ayah saya mengatakan: “œSimpan cita-citamu dalam hati, jangan pernah dilupakan. Mungkin ia tidak akan tercapai dengan cepat dan mudah, tetapi kamu harus yakin suatu saat kamu akan berhasil.”

Kakak yakin, suatu saat kamu pasti akan berhasil mencapai cita-citamu!

*Nisa Faridz adalah mahasiswa doktoral dalam bidang administrasi dan kebijakan pendidikan di State University of New York, Albany, Amerika Serikat. Awalnya ia adalah seorang guru SD, lalu beralih menjadi pengajar untuk calon guru dan fasilitator untuk pengembangan sekolah dan profesi keguruan.

**Tulisan ini dimuat di anakbertanya.com, 17-01-2014

Tidak Ada Solusi Khusus bagi Masalah Pemuda di Indonesia

Sebuah Refleksi di Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2013

Oleh: Uruqul Nadhif Dzakiy*

Data Badan Pusat Statistik (BPS) seperti yang diberitakan Kompas hari ini (28/10/2013) menunjukkan kelompok usia produktif berusia 15-65 tahun meningkat 17,1 persen dalam waktu 15 tahun ke depan. Sensus BPS tahun 2010 mencatat, penduduk Indonesia kelompok 0 sampai 14 tahun sebesar 28,8 persen dari mereka yang berumur 15 sampai 39 tahun sebesar 32,3 persen. Jadi lebih dari 60 persen dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia berumur 40 tahun.

Teringat ungkapan Bung Karno “… Beri aku 10 orang pemuda niscaya akan kugoncangkan dunia” yang menunjukkan bahwa pemuda memiliki harapan yang luar biasa besar dari kemajuan suatu bangsa. Peristiwa-peristiwa heroik di negeri ini juga banyak didalangi oleh orang-orang muda seperti kepemimpinan Jenderal Besar TNI, Soedirman saat melawan tentara sekutu di Ambarawa pada beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan. Ketika itu, Soedirman berusia 29 Tahun. Hal heroik serupa juga dilakukan oleh sekelompok pemuda pada penculikan Soekarno-Hatta menjelang proklamasi kemerdekaan yang umum dikenal sebagai peristiwa rengasdengklok.

Seiring berjalannya waktu, kiprah pemuda di negeri ini cenderung redup. Puncak pergerakan pemuda yang heroik ada pada reformasi 1998 dimana Pemerintahan Soeharto yang korup dan menindas berhasil digulingkan. Penggulingan rezim Orde Baru merupakan tujuan utama pemuda yang mayoritas didominasi mahasiswa. Nasib bangsa tetap dibebankan pada kaum tua. Komposisi orang tua tetap mendominasi keberlanjutan roda kepemimpinan negeri ini. Hal tersebut menandakan bahwa pemuda belum punya kuasa untuk memimpin bangsa yang besar ini. Pemuda belum punya visi bersama untuk merealisikan visi bangsa yang tertuang dalam amanat UUD 1945.

Mahasiswa Sebagai Bagian dari Pemuda

Seorang peneliti politik, Burhanuddin Muhtadi, seperti yang diungkap di kompas hari ini (28/10) mengungkapkan bahwa generasi muda Indonesia saat ini punya pendidikan lebih baik, cakrawala lebih luas, dan mimpi lebih tinggi. Mereka lebih produktif dan lebih siap menanti tantangan masa depan. Mereka bisa menjadi generasi emas jika perkembangannya tak banyak direcoki kaum tua. Ketika negara maju mengalami masalah penuaan penduduk, Indonesia justru menuai bonus demografis dengan meningkatnya jumlah penduduk usia muda.

Sebelum Anda mengamini ungkapan Burhanuddin diatas, sejenak kita telusuri kondisi pemuda Indonesia hari ini. Saya tidaklah menggambarkan pemuda secara umum, namun saya ambil bagian utama bagi pemuda yakni mahasiswa. Mahasiswa saat ini terkotak-kotak dalam berbagai tujuan dan keinginan. Mahasiswa tidaklah satu. Kemahasiswaan antar kampus menjadi semacam negara. Ada birokrasi khusus jika suatu kemahasiswaan ingin bertemu dan berkolaborasi dengan kemahasiswaan lainnya.

Biarpun muncul berbagai upaya menyatukan pergerakan mahasiswa seperti halnya Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) namun realisasinya, pergerakan mahasiswa semakin kehilangan roh. Hal itu disebabkan oleh berbagai kemungkinan seperti mahasiswa mulai tergabung dalam politik praktis, miskin gagasan, atau sejatinya pergerakan semacam saat ini (aksi turun ke jalan dan audiensi dengan pejabat yang terlibat) sudah tidak lagi diminati mahasiswa secara umum.

Mahasiswa semakin individualis. Mahasiswa tidak lagi memikirkan nasib bangsa. Mahasiswa tidak lagi ingin berdialog seputar permasalahan bangsa. Mahasiswa semakin berfikir transaksional saat belajar di kampus. Mahasiswa semakin matrealistik dimana pergerakan yang tidak mendapatkan keuntungan secara pribadi wajib dijauhi. Mahasiswa sudah memasuki zona nyaman atau terhanyut dalam derasnya arus globalisasi yang didalangi oleh Barat. Mahasiswa semakin kehilangan identitas kebangsaannya. Nasionalisme berbangsa hanya dipandang sekedar peringatan 17 Agustus 1945 atau ketika Timnas bola Indonesia sedang berhadapan dengan negara lain di sebuah kompetisi resmi FIFA. Begitulah kiranya gambaran kondisi mahasiswa saat ini yang saya dapatkan dari berbagai kepala. Masih setujukan Anda dengan ungkapan Burhanuddin di atas?

2045, Indonesia Menjadi Negara Maju?

Indonesia 2045 nanti diprediksi akan memiliki piramida penduduk yang sangat ideal. Dimana 70% penduduk Indonesia berada pada usia produktif dengan usia berkisar 25-45 tahun. Inilah yang dinamakan jendela demografi (demographic window). Hendra Gunawan (Staff Pengajar Matematika ITB) menilai bahwa hal tersebut bisa berdampak setidaknya tiga kemungkinan yaitu bonus demografi, statis atau tidak ada perubahan, atau malah menjadi kutukan demografi. Jika ingin sebagai bonus demografi, menurut Hendra, Indonesia harus segera menggarap berbagai bidang [1]. Selain itu, pada 2045, Indonesia diproyeksi menjadi salah satu dari 7 kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan perkapita USD 47.000. Saat ini pendapatan perkapita Indonesia mencapai USD 4.000 [2]. Banyak pejabat menanggapi bahwa dengan tumbuhnya ekonomi yang besar di tahun 2045, Indonesia akan beralih status dari negara berkembang menuju negara maju. Jika kita rangkum maka ada rumusan jitu; Jika bonus demografi di tahun 2045 maka ekonomi kita tumbuh lebih dari sepuluh kali lipat dan Indonesia akan menjadi bagian dari negara maju.

Semudah itulah rumusan menjadi negara maju? Negara maju merupakan sebutan untuk negara yang menikmati standar hidup yang relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata (id.wikipedia.org). Kita tidak lantas setuju dengan definisi tersebut, namun setidaknya itu adalah cerminan bagi negara maju saat ini. Jika dikaitkan dengan Indonesia hari ini, sudah adakah upaya untuk mengarah ke sana? Saya katakan tidak. Pemerintah hanyalah berfokus pada data statistik atas referensi International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia yang sarat akan kepentingan mereka sebagai pengatur kebijakan finansial negara dunia ketiga.

Pemerintah juga tidak fokus pada pemajuan pendidikan seperti halnya kebebasan mimbar akademik di Perguruan Tinggi. Riset di lembaga keilmuan dan Perguruan Tinggi sangat rendah. Perguruan Tinggi hanyalah sekedar pencipta pekerja-pekerja baru di dunia industri yang didominasi oleh perusahaan asing. Undang-Undang banyak diobral untuk kepentingan suatu kelompok. Teknologi tinggi memang dirasakan di negara ini namun hanya sekedar teknologi konsumtif seperti halnya smart phone. Kekayaan alam sekedar menjadi pemuas nafsu negara besar, karena negara ini sekali lagi tidak bersiap untuk mengolah sendiri. Pekerjaan bertani dikonotasikan negatif oleh Pemerintah, padahal negara ini dikenal sebagai negara agraris. Swasembada bahan pangan hanya sekedar jargon tanpa realisasi. Negara ini semakin gencar impor bahan pangan termasuk didalamnya beras dan produk lainnya. Negara ini digempur dari banyak sisi oleh negara lain. Suara negara ini mudah sekali disetir oleh negara besar di majelis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akibat tidak beraninya negara ini menjadi negara yang mandiri. Oleh karenanya, Indonesia mustahil menjadi negara maju di tahun 2045.

Solusi Permasalahan Pemuda

Melihat permasalahan pemuda saat ini khususnya mahasiswa yang sangat kompleks, mungkin tercetus berbagai solusi pemecahnya. Orde baru menawarkan Pancasila sebagai solusi dari permasalahan bangsa, namun gagal. Pancasila dikeramatkan dan cenderung melawan logika. Solusi-solusi lain mungkin muncul dari berbagai tokoh dan pengamat. Namun pelaksanaannya berada di tangan pemerintah. Pemerintah hanya bisa bisa trial and error.

Sejauh ini bagi saya, pemerintah belum pernah berhasil merumuskan solusi permasalahan pemuda. Bagi saya, tidak ada solusi khusus bagi masalah pemuda di Indonesia hari ini. Hanya saja, pemuda Indonesia hari ini harus menjadi individu yang merdeka. Individu yang heroik, yang selalu ingin keluar dari zona nyaman. Individu yang unggul dan sanggup berkompetisi secara global. Individu yang tidak mudah puas. Individu yang sanggup mengenali dirinya masing-masing. Individu yang selalu ingin belajar. Individu yang skeptis, yang tidak mudah percaya dengan informasi-informasi yang baru diterima. Individu yang berani. Individu yang jujur. Individu yang paripurna sebagai manusia seutuhnya.

[1] http://www.itb.ac.id/news/3947.xhtml
[2] Lihat kutipan Masterplan Percepatan Pembangunan Perekonomian Indonesia (MP3EI)

*Uruqul Nadhif Dzakiy adalah mahasiswa S1 Matematika ITB angkatan 2009.

Bandung, 28-12-2013

What kind of messages are we sending to our children

By: Theo Tuwankotta

“You really need to consider the message you’re sending this boys by ending the lockout. It’s the same message that we as a culture send to our professional athletes; and that is that they are above the law. If these boys cannot honor the simple rules of a basketball contract, how long do you think it will be before they’re out there breaking the law? I played ball here at Richmond High 30 years ago. It was the same thing then; some of my teammates went to prison, some of them even ended up dead. If you vote to end the lockout, you won’t have to terminate me; I’ll quit.”

The above written quotation I found from the movie Coach Carter (2005). Coach Ken Carter takes over the head coaching job for the Oilers basketball team at his old high school Richmond, having played on the team himself, earning unbeaten records. Carter quickly learns that the athletes are rude and disrespectful, and are in need of discipline. He hands the players individual contracts, instructing them to attend all of their classes and maintain a respectable grade point average, among other requirements. Carter later discovers the progress reports filled out by the faculty reveal some of the students have been skipping classes and floundering academically. Carter initiates a lockdown on the gym, banning the team from playing until they improve their grades. The act angers the locals, as Carter is criticized by parents and academic personnel alike. The school board eventually confronts Carter, who justifies his actions, explaining he wants to give his team the opportunity and option for further education so they won’t resort to crime. The board, aside from Principal Garrison and the chairman, vote to end the lockout, much to Carter’s dismay.

Sometime (if not most of the time) our goal oriented attitude dominates our way of thought. We do not really care what is the cost of our action, as long as we receive what we want. When those parents of Richmond high in the movie, forced the school to end the lockout, they also send the message that laws are not to be respected. But let us now look at our society, and maybe … maybe we could recognize similar behavior. As parents, sometime we “allow” children to ride on a motorbikes, even cars. Many of us even “pay” the authorities to get these children license when they are not eligible for it. Also with school reports, how many of us allow our selves to “bribe” the authorities to help our children get through their difficulties in schools. School is a place to get education, but clearly we’re sending out the message that school is nothing but a market.

The bad news is, we’ve been sending these messages for ages. And now we are paying the price. Corruption has been found at any level of the governmental office. Even academics are not immune to this severe decease, and also religious people or religious organization. The integrity of these organizations who are supposed to be the guardian of values, is now questionable.

In mathematics, we recognize a special function called norm. In society, we also have norms. To put it in a simple way, a mathematical norm maps an element in a space (called vector) to real numbers of which can be put in order. This is basically what norms in the society do: maps the behavior of a member of the society to some measurements of which can be stated as, for example: being noble, good, acceptable, fair, bad, should be avoided, or even forbidden. And just as in mathematics, by changing the norm we can get a different topology (or simply, a different type of sets), also in the society the norms also define what is good-, acceptable-, or bad- category of behaviors. The difference is, norm in mathematics is basically unaffected by the space where it lives, and the norm is invariant with respect to time. In society, norms are influenced by the society itself and also in general are NOT invariant with respect to time. There are behaviors which are acceptable in the early days of human life which are now considered as unacceptable or even forbidden.

Furthermore, these messages we’re sending to our children, be it good or bad,…. harmful or harmless,…. killing or curing,…. whatever they are,…. these messages help defining a new norm, or transforming the old norm into a new one. And as they become norms, they define the way of thoughts of these soon to be the majority in the society. Let us now talk to our conscience, and check: what kind of messages we’re sending to our children. If we are not careful with this, we are in the process of creating monsters.

Bandung, 09-10-2013

Masa Depan itu Sekarang**

Oleh: Bambang Hidayat*

Tahun 2045, tatkala kita memperingati 100 tahun NKRI, rasanya masih begitu jauh. Namun, dari sudut pembelajaran bangsa, sebenarnya momen itu merupakan tonggak di pengkolan jalan sebelah—artinya tidak jauh.

Ancang-ancang pendidikan sudah harus dimulai dari sekarang (H Gunawan, Kompas, 5 Maret 2013) kalau kita ingin Indonesia berperan dalam arus kemajuan dunia. Buchori dkk (BSNP, 2012) menandai pergeseran paradigma pendidikan dengan sidik tekno sains.

Dalam tekno sains, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berdiri sendiri, tapi berdamping dengan ilmu sosial dan humaniora. Pembangunan watak abad ke-21 harus diumpan dengan kecerdasan dan nalar melalui proses ajar-mengajar yang dialogis.

Penalaran kritis

Maka, Iwan Pranoto (Kompas, 14 Desember 2012) ingin menumbuhkan cinta pada ilmu, sementara Daoed Joesoef (Kompas, 20 Mei 2013) memboboti jiwa keilmuan dengan penalaran kritis dan steril-dogma.

T Gunawan (Universitas Pembangunan Jaya) ingin membangun aspek penalaran dan membidani daya pikir kritis, menyatukan keilmuan eksakta dengan kehidupan. Maka, anak didik perlu dibekali adonan dasar disiplin ilmu yang bertali-temali.

Secara generik pendidikan sains dan teknologi seperti itu berlabel pendidikan sains pemerdekaan (sebagai padanan “liberal”). Inilah salah satu sarana mengajarkan sains agar lulusan pendidikan tidak cepat merasa tahu dengan hanya satu disiplin ilmu. Tentu saja usaha ini tidak mengerdilkan upaya membentuk spesialis, tetapi bertujuan memijah warga muda menjiwai cara pandang luas, tidak miopik.

Perguruan tinggi memegang peran penting dalam mengonstruksi modal kultural dan modal sosial ke dalam kemajuan sains dan teknologi. Anak didik tidak lagi menjadi obyek, tetapi dirangkul sebagai sosok intelektual berwawasan luas dan terbuka. Kewajiban pendidik adalah membuat sosok intelektual itu jauh dari tipe ahistorikal.

Landas tujuan adalah ke-Indonesia-an karena pendidikan itu untuk manusia Indonesia yang akan membangun Indonesia. Peserta didik membawa bekal multikultural berbobot nilai luhur agama, watak etnik, gelegar bahasa-ibu dan budi bahasa daerah, yang tidak dapat dinafikan. Karena itu, proses pendidikan adalah olahan luhur, perlu kesediaan semua pihak menjiwainya.

Produk pendidikan harus mampu mengetengahkan keunggulan nalar daripada biseps dan terlatih berbahasa sopan dan rasional saat mempertentangkan atau menerima argumen. Jiwa zaman menjadi penting untuk disertakan dalam perhitungan karena masa depan mempunyai nuansa berbeda.

Tantangan

Anak didik tahun 2013 akan menghadapi kenaikan jumlah penduduk dan usia lanjut secara progresif, internasionalisasi yang membutuhkan penguasaan lebih dari satu bahasa internasional, terhapusnya batas geografi dan ranah ekonomi konvensional, kesadaran lingkungan, hak asasi dan kewajiban dasar manusiawi, serta perubahan nilai dan pandangan kemasyarakatan.

Pendidikan sains pemerdekaan tak lupa mengisi kemampuan berbahasa sebagai sarana komunikasi antarmanusia, antarwarga, dan antarbangsa, dengan penekanan pada kemampuan berkomunikasi, bukan sekadar bicara. Kita bersyukur memiliki lingua franca, bahasa Indonesia. Inilah perekat elemen kebangsaan yang mampu menyampaikan pesan kejiwaan dan spiritual.

Dalam perjalanan hidup, penulis menemui ungkapan bijak bahasa Jawa ajining diri mergo ukoro, yang artinya ‘citra dan harga diri kita diukur dari tutur kata yang dikeluarkan’. Kalimat bersayap ini kongruen dengan adagium Whitehead, yang menyebutkan bahasa sebagai inkarnasi mental suatu bangsa.

Penguasaan bahasa tulis maupun tutur akan membebaskan masyarakat dari tindak kekerasan fisik provokatif. Menguasai bahasa dengan baik diharapkan dapat menyampaikan buah pikiran, induktif maupun deduktif, untuk beradu pendapat.

Pengajaran bahasa bertujuan menjadikan peserta didik mengenali kebutuhan sosial dan masalah negara secara dewasa, mengasimilasikan atau membandingkan dengan kebutuhan sendiri, ikut mematangkan intelektual, menjadi pisau bedah diagnostik untuk memahami teks dalam konteks.

Skema Pendidikan Nasional sudah dipakukan, yakni Indonesia yang berkultur jamak. Penalaran, berpikir logis, bebas tidak dogmatik, perlu diobori untuk memetakan jalan pembentukan manusia berkarakter mandiri, mampu menanggalkan ke-aku-an dan mentransformasinya menjadi ke-kita-an.

Itikad seperti itu semestinya tecermin dalam falsafah pendidikan dan ter-reka dalam wujud kurikulum yang membentuk penalaran. Pemilahan baik dan jelek bukan oleh kekuasaan, tetapi oleh kepekaan dan kejernihan pikir masyarakat.

*Bambang Hidayat adalah anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

**Tulisan ini diterbitkan di Harian Kompas, 17-06-2013

Aku Berkarya, Maka Aku Ada*

Oleh: Rasyid Sayyari

Cogito Ergo Sum”, suatu ungkapan populer yang diucapkan oleh filsuf Rene Descartes. Arti dari ungkapan tersebut adalah, “Aku Berpikir, Maka Aku Ada”. Descartes sebagai filosof pendukung ‘aliran’ rasionalisme dalam filsafat, berpendapat bahwa manusia yang berpikir adalah manusia yang diakui keberadannya. Manusia yang eksis.

Sebuah pertanyaan di hati saya muncul ketika mengingat ungkapan tersebut, apakah kita cukup hanya berpikir, untuk dianggap sebagai suatu keberadaan?

Diskusi antara hati dan otak menjawab, tidak cukup. Berpikir adalah aktivitas mental yang dilakukan manusia secara internal. Artinya berpikir hanya bisa dilakukan dan dirasakan sendiri. Dalam berpikir kita tidak melibatkan orang lain. Kita hanya memanfaatkan akal pikiran, panca indera dan segala karunia yang diberikan Tuhan.

Jika berpikir saja tidak cukup, apa yang harus kita lakukan agar ‘menjadi ada’ ? Jawabannya adalah BERKARYA. Karya adalah hasil olah rasa, olah hati dan olah pikiran. Ketika berpikir menjadi aktivitas abstrak yang hanya bisa dirasakan sendiri, berkarya adalah aktivitas menghasilkan sesuatu yang bisa dirasakan, bisa diapresiasi oleh orang lain.

Pertanyaan selanjutnya, karya seperti apa yang harus kita buat agar kita ‘menjadi ada’? Ini adalah pertanyaan yang cukup pelik, mengingat berkarya adalah sesuatu yang terus menerus kita lakukan, dari bangun tidur hingga tidur lagi. Berkarya tidak sesedarhana membuat tulisan atau mencipakan lagu, berkarya memiliki makna yang lebih dalam dari pada itu. Hidup kita sejatinya adalah karya. Semua yang kita lakukan selama hidup adalah ‘karya’.

Manusia yang baik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Begitulah sabda Nabi Muhammad saw.  Sabda ini bisa dijadikan pijakan dalam berkarya. Pijakan yang cukup tepat dalam mengarahkan kita, agar kita tidak salah berkarya. Artinya, kita bisa dan pasti bisa berkarya, dan menjadi manfaat buat orang lain. Bukan hanya bagi diri sendiri.

Berkarya, bisa dibedakan menjadi berkarya secara umum dan khusus, berkarya secara umum adalah keseluruhan tindakan dan perkataan selama hidup kita, sedangkan berkarya secara khusus adalah membuat suatu ‘produk’ dari olah pikir dan olah rasa.

Saya akan mengambil  satu contoh dari berkarya, yaitu menulis. Dengan menulis sebuah tulisan, kita telah berkarya. Walaupun tulisan kita hanya satu buah, ini bukanlah sebuah aib. Satu tulisan lebih baik dibandingkan tidak ada sama sekali.

Dengan arahan sabda tersebut, kita bisa menuliskan sesuatu yang bermanfaat. Yang manfaatnya bukan hanya bagi diri kita, tetapi juga bagi orang lain. Manfaat yang sebenarnya juga akan kembali kepada diri kita. Ini mirip seperti bumerang yang kita lemparkan ke udara, suatu saat aka kembali ke diri kita.

Apakah bumerang itu akan kembali secara baik atau buruk, tergantung dari karya yang sudah kita buat. Jika kita menulis sesuatu yang bermanfaat, akan ada doa, akan ada simpati, akan ada ucapan terima kasih dari orang lain yang membaca tulisan kita. Bukan berarti kita haus terima kasih, tetapi terima kasih tulus akan kita terima jika kita menulis sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Jika kita melakukan sesuatu dengan tulus.

Sejarah telah membuktikan, orang-orang besar dan berpengaruh dalam sejarah adalah mereka yang berkarya. Einstein telah berkarya dengan teori relativitasnya, Newton telah berkarya dalam teori gravitasinya, Tsai Lun telah berkarya dengan penemuan kertasnya.

Mereka yang berkarya selama hidupnya akan dikenang oleh manusia sepeninggal hidupnya. Mereka yang berkarya untuk kemaslahatan orang banyak akan dikenang sebagai orang yang bermanfaat selama hidupnya, begitu juga sebaliknya.

Aku Berkarya, Maka Aku Ada.

*Tulisan ini diunggah di Kompasiana, 04-08-2012.