Ilmuwan

Edy Tri Baskoro dan Teori Graf

Ada berapa banyak matematikawan di Indonesia? Hmm.. kalau dosen matematika sih banyak. Tapi, kalau yang benar-benar matematikawan, tidak banyak. Di antara yang sedikit itu, Edy Tri Baskoro adalah salah satunya. Bahkan, ia adalah yang paling berkibar karena produktivitasnya dalam penelitian, khususnya dalam bidang Teori Graf. Karya-karyanya banyak dipublikasikan di berbagai jurnal, antara lain di Utilitas Mathematics dan Ars Combinatorics.

Edy Tri Baskoro lahir di Jombang pada tahun 1964. Ia meraih gelar Ph.D. dari The University of Newcastle, Australia, pada tahun 1996. Sejak tahun 2006, ia menjabat sebagai Guru Besar dalam bidang Matematika Kombinatorika di FMIPA ITB Bandung. Pada tahun 2009, ia menerima Habibie Award untuk bidang sains dasar. Saat ini ia juga menjabat sebagai Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan, setelah kurang lebih 10 tahun terlibat sebagai anggota Badan ini.

Profil lengkap Edy Tri Baskoro dapat dilihat di situs personalnya: http://etb.maths.web.id/

HG, 11-06-2014

Advertisements

Sangkot Marzuki dan Lembaga Eijkman

Nama Sangkot Marzuki barangkali melekat dengan Lembaga Eijkman. Bahkan, sebaliknya, bila kita mendengar nama Lembaga Eijkman dewasa ini, yang melintas di benak kita mungkin nama Sangkot Marzuki.

Sangkot Marzuki lahir di Medan, Sumatera Utara, 2 Maret 1944. Beliau menjadi Direktur Lembaga Eijkman sejak 1992 hingga sekarang. Ia menempuh pendidikan S1 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (lulus 1968), S2 di Universitas Mahidol, Thailand (lulus 1971) dan S3 di Universitas Monash, Australia (lulus 1976).

Lembaga Eijkman, atau tepatnya Lembaga Biologi Molekul Eijkman, merupakan lembaga riset negara dengan misi mengembangkan ilmu pengetahuan dasar di bidang biologi molekuler serta menerapkan pengetahuan tersebut untuk pemahaman, pengenalan, pencegahan, dan pengobatan penyakit pada manusia.

Nama lembaga penelitian ini diambil dari nama direktur pertamanya, Christiaan Eijkman, yang meraih penghargaan Nobel untuk penelitiannya mengenai pengaruh vitamin terhadap beberapa penyakit manusia, terutama beri-beri.

Setelah ditutup pada tahun 1965, Lembaga Eijkman direvitalisasi oleh Menristek RI saat itu, B.J. Habibie, pada tahun 1992. Prof. Sangkot Marzuki, yang ketika itu berada di Australia, dipanggil pulang untuk memimpin lembaga ini. Jabatan tersebut masih ia emban hingga sekarang, dibantu oleh seorang Deputi Direktur, yaitu Prof. dr. Herawati Sudoyo, Ph.D. Hingga kini, Lembaga Eijkman bertanggungjawab langsung kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi RI.

Sosok Sangkot Marzuki memang bukan sosok sembarangan. Sebagai peneliti dalam bidang biokimia, genetika dan biologi molekuler, sebanyak 111 publikasinya tercatat di Scopus (per September 2013). Papernya pun masih terbit pada tahun 2013 ini, sekalipun bukan sebagai penulis pertama. Beberapa paper yang dipublikasikannya sebagai penulis pertama antara lain berjudul “Update in molecular genetics: mitochondrial energy transduction disorders,” The Southeast Asian Journal of Tropical Medicine and Public Health 26 Suppl. 1 (1995), 155-161, dan “Developmental genetics of deleted mtDNA in mitochondrial oculomyopathy,” Journal of Neurological Sciences 145 (2) (1997), 155-162.

Saat ini, Sangkot Marzuki masih tercatat pula sebagai Honorary Professor di Sydney Medical School, The University of Sydney.

Sumber:

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Sangkot_Marzuki
  2. http://foto.ureport.news.viva.co.id
  3. http://www.thejakartapost.com/news/2010/02/04/sangkot-marzuki-the-brilliant-professor-behind-eijkman.html

HG, 09-09-2013

Astronom dari Lembang Mengangkasa

Barangkali ini berita lama, namun saya merasa perlu untuk merekamnya di blog ini. Ya, pada awal tahun 2011 yang lalu, empat astronom Indonesia yang pernah menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha ITB, Lembang, Kabupaten Bandung, diabadikan namanya sebagai nama asteroid 12176, 12177, 12178, dan 12179. Mereka adalah Prof. Bambang Hidayat, Dr. Moedji Raharto, Dr. Dhani Herdiwijaya, dan Dr. Taufiq Hidayat.

Prof. Bambang Hidayat menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha ITB pada periode 1968-1999, dan pernah menjadi Vice President International Astronomical Union pada tahun 1994-2000. Ia dikenal atas karyanya dalam bidang astronomi, khususnya mengenai visual binaries dan bintang H-emission-line. Asteroid 12176 sekarang dinamai sebagai 12176 Hidayat.

Dr. Moedji Raharto menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha ITB pada 1999-2004. Sebagai astronom, ia menekuni struktur galaksi. Namanya kini diabadikan pada asteroid 12177 Raharto.

Dr. Dhani Herdiwijaya menjabat sebagai Kepala Observatorim Bosscha ITB pada 2004-2006. Dalam bidang astronomi, ia aktif meneliti fisika Matahari, bintang kembar, aktivitas magnetik Matahari dan pengaruhnya pada iklim dan cuaca di Bumi. Namanya kini menempel pada asteroid 12178 Dhani.

Dr. Taufiq Hidayat menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha ITB pada 2006-2010. Kiprahnya dalam bidang astronomi terfokus pada sistem tata surya dan extra solar transits. Ia dkk juga menaruh perhatian pada masalah urbanisasi di sekitar Observatorium Bosscha dalam beberapa tahun terakhir. Namanya kini bertengger pada asteroid 12179 Taufiq.

Jauh sebelumnya pernah ada pula Kepala Obervatorium Bosscha, yaitu Prof. G.B. van Albada dan Prof. The Pik Sin, yang namanya diabadikan pada asteroid 2019 van Albada dan 5408 The.

Ke depan, kita tinggal menantikan nama-nama Kepala Observatorium Bosscha berikutnya, yaitu Dr. Hakim Malasan (2010-2011) dan Dr. Mahasena Putra (2012-sekarang), muncul dalam nama asteroid lainnya. Dr. Hakim Malasan pada saat ini menjabat sebagai Vice President IAU dalam bidang pendidikan. Sementara itu, Dr. Mahasena Putra dkk sedang merintis upaya pembangunan Observatorium Bosscha II di NTT.

Artikel serupa dapat pula dibaca antara lain di sini: Nama-Nama Indonesia pun Tertera di Angkasa.

HG, 05-08-2013

LIE-INJO Luan Eng: Peneliti Darah Manusia

Nama yang unik, LIE-INJO Luan Eng, saya dengar dari rekan saya, Dr. Agung Trisetyarso, melalui tweet ybs di Twitter:

“Nama orang Indonesia yang pertama kali publikasi di Nature dan single author adalah LIE-INJO Luan Eng, pada tahun 1957. Wow!”

Mempunyai publikasi di Nature adalah suatu keistimewaan. Penasaran dengan informasi tersebut, segera saya google nama LIE-INJO Luan Eng, dan segera saya sadar bahwa yang saya temukan adalah sosok penting dalam sejarah penelitian dalam bidang kedokteran di Indonesia, khususnya yang terkait dengan darah dan hereditas/genetika manusia.

Paper Lie-Injo yang pertama kali dipublikasikan di Nature ternyata bukan yang ditemukan oleh Trisetyarso, tetapi yang terbit pada tahun 1955, vol. 176 (4479), hal. 469-470, berjudul Haemoglobin E in Indonesia.

Beliau tampaknya lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 1956 (tesis beliau ditulis pada tahun 1956), namun tak lama kemudian hijrah ke Malaysia dan kemudian menetap di Amerika Serikat dan menjadi dosen di University of California, San Francisco.

Dari data Scopus, tercatat sekitar 100 publikasi atas nama Lie-Injo, 93 di antaranya berupa paper yang terbit di berbagai jurnal, antara lain Nature, Human Genetics, Human Heredity, Acta Haematologica, Blood, dan Hemoglobin. Publikasi terakhir beliau tentang mutasi beta-thalassemia di Indonesia terbit di American Journal of Human Genetics, tahun 1989, vol. 45 (6), hal. 971-975.

Kemungkinan Lie-Injo sudah wafat pada tahun 1990-an, namun informasi tentang kapan beliau lahir dan wafat sementara ini belum ada. Demikian juga foto beliau belum ditemukan. Bersama dengan suaminya, LIE Kian Joe, beliau diketahui sebagai pendiri Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran UI. Barangkali ada rekan dari Fakultas Kedokteran UI yang mempunyai informasi dan foto beliau?

HG, 09-07-2013

Teuku Jacob (1929-2007): Ahli Paleoantropologi

Teuku Jacob dikenal sebagai ahli paleoantropologi dan antropologi ragawi, dengan temuan sejumlah spesimen di Jawa dan fosil manusia kerdil Flores. Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM pada tahun 1956, ia sempat melanjutkan studi ke Amerika Serikat pada 1957-1960, namun gelar doktornya kemudian diperoleh dari Universiteit Utrecht pada tahun 1967.

Ia pernah menjabat sebagai Rektor UGM pada 1981-1986, dan selebihnya lebih banyak dikenal karena aktivitasnya di Laboratorium Bio-Paleoantropologi UGM.

Selama karirnya sebagai ahli paleoantropologi, ia telah mempublikasikan banyak paper, 17 di antaranya terekam di Scopus. Ada dua papernya yang ditulis bersama rekan-rekannya dan diterbitkan di Science, yaitu: “Stone tools from mid-Pleistocene sediments in Java”, tahun 1978, vol. 202 (4370) , hal. 885-887, dan “Age of the earliest known hominids in Java, Indonesia”, tahun 1994, vol. 263 (5150) , hal. 1118-1121. Selain itu, ada pula papernya yang diterbitkan di Nature, yaitu: “Early brain growth in Homo erectus and implications for cognitive ability”, tahun 2004, vol. 431 (7006) , hal. 299-302.

Science dan Nature merupakan dua jurnal ternama yang mempunyai impact factor sangat tinggi — tidak sembarangan paper bisa diterbitkan di sana. Dua paper terakhirnya masih terbit setelah ia wafat, persisnya pada tahun 2008, di Journal of Human Evolution.

Berikut adalah berita seputar manusia kerdil Flores, yang dikenal oleh ahli paleoantropologi manca negara sebagai Homo floresiensis: http://www.cosmosmagazine.com/features/bones-contention/

HG, 03-06-2013

TJIO Joe Hin (1919-2001): Penemu Jumlah Kromosom

TJIO Joe Hin lahir di Jawa (pada jaman penjajahan Belanda), dan lulus dari Sekolah Agronomi Bogor pada tahun 1940. Ia kemudian dikenal sebagai ahli cytogenetik yang pertama kali menghitung dengan tepat jumlah kromosom manusia. Peristiwa penting itu terjadi pada akhir tahun 1955, ketika Tjio bekerja sebagai peneliti tamu di Institute of Genetics, University of Lund, Swedia. (Thanks to Galih Prasetya for telling me about him!) Kisah tentang TJIO Joe Hin selengkapnya dapat dibaca di:

http://www.nytimes.com/2001/12/07/us/joe-hin-tjio-82-research-biologist-counted-chromosomes.html

Berikut adalah cuplikan dari artikel tersebut (maaf, dalam bahasa Inggris):

Joe Hin Tjio, 82; Research Biologist Counted Chromosomes

By WOLFGANG SAXON

Dr. Joe Hin Tjio, the research biologist who produced the first correct count of the chromosomes in human cells, died Nov. 27 in Gaithersburg, Md. He was 82.

Dr. Tjio (pronounced CHEE-oh) accomplished that feat in 1956 as a visiting scientist at the University of Lund, Sweden. His surprise discovery helped pave the way to much work in human biology pertaining to chromosomal abnormalities.

He later joined the staff of the National Institutes of Health, and President John F. Kennedy honored him with an outstanding achievement award in 1962.

The nature and functions of chromosomes, the agents of heredity, had been known when Dr. Tjio correctly counted the number of chromosomes. But observing human chromosomes under the microscope had always been more difficult than observing those of other species, and scientists had long assumed that chromosomes normally numbered 48 in each body cell.

Dr. Tjio used an advanced technique to separate chromosomes of embryonic lung tissue on glass slides and, to his own amazement, saw that the actual figure was 46. ”The number was just an incidental finding,” he recalled many years later.

Catatan: Artikel serupa dapat pula ditemukan di situs The Guardian.

HG, 03-05-2013