Aku Suka Sejarah. Aku Bisa Jadi Apa? **

Oleh: Andi Achdian*

Kamu menyukai pelajaran sejarah? WOW! Apakah kamu juga menyukai kisah-kisah tempo dulu anggota keluargamu? Tentang Ayah dan Ibumu? Tentang Kakek dan Nenek, dan siapa saja yang lahir terlebih dahulu sehingga kamu ada di dunia ini?

Kalau sekarang kamu bertanya tentang cita-cita apa yang cocok untuk kamu yang suka pelajaran sejarah, saya pun memiliki rasa penasaran yang sama. Sungguh! Akan menjadi apa kamu di masa depan nanti?

Pertanyaanmu mendorong saya untuk membuka-buka buku di perpustakaan, membaca kisah-kisah para penemu, petualang, dan juga pemimpin besar yang namanya ada dalam catatan sejarah. Eureka! Saya girang seperti Archimedes, tetapi tidak berlari telanjang. Kebanyakan di antara orang-orang besar itu, mereka adalah orang-orang yang menyukai sejarah seperti kamu juga.

Sebagai contoh, coba kamu lihat kisah hidup Sukarno, presiden pertama dan pendiri negara Republik Indonesia. Sejak usia kanak-kanak, ia menyukai segala sesuatu bersifat sejarah. Ia suka wayang. Ia suka kisah raja-raja Nusantara. Ia pun gemar dengan cerita-cerita para raja dan kaisar di benua Eropa, nun jauh dari tempat kelahirannya. Perhatikan juga pidato-pidatonya. Sukarno tidak pernah lupa mengutip kata-kata bijak dan perbuatan tokoh-tokoh besar dalam sejarah, atau juga peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Si pencinta sejarah ini pun menjadi mahasiswa teknik yang belajar arsitektur di Bandung. Bayangkan!

Akhirnya, izinkan saya mengatakan dua hal.

Pertama, kesukaanmu terhadap sejarah membuka mata hati paling dalammu menjadi seorang manusia. Ia adalah busur dan anak panah yang membantumu membidik cita-cita yang paling jauh dan paling tinggi yang bisa kamu bayangkan. Silakan membidik apa saja. Apakah kamu ingin menjadi ilmuwan, dokter, penyair, wartawan, guru atau dosen di perguruan tinggi. Apapun.

Kedua, kecintaanmu terhadap sejarah mungkin akan menjadikanmu sebagai sejarawan profesional. Kamu akan melakukan banyak hal yang menyenangkan. Mengumpulkan surat-surat tua untuk menguak cerita masa lalu yang hilang. Mungkin itu adalah surat cinta Ayah kepada Ibumu. Mungkin juga kamu menemukan dokumen-dokumen yang jarang orang mau menyentuhnya, tetapi ternyata ia membawamu pada satu rahasia tentang riwayat penting negerimu.

*Andi Achdian adalah seorang sejarawan. Saat ini ia sedang menempuh program doktor di FIB UI.

**Tulisan ini dimuat di anakbertanya.com sebagai jawaban terhadap pertanyaan seorang anak tentang cita-cita apa yang cocok baginya yang menyukai pelajaran Sejarah.

Bandung, 29-08-2014

Rose Amal dan Material Nano

Rose Amal menempuh pendidikan dasar di SD dan SMP Methodist Medan, dan lulus dari SMA Katolik Medan pada tahun 1983. Ia melanjutkan kuliah di UNSW Sydney dan mendapat gelar B.Eng. dalam bidang Teknik Kimia pada tahun 1988. Gelar doktornya diperoleh dari universitas yang sama pada tahun 1991, juga dalam bidang Teknik Kimia. Sejak itu, ia menjadi dosen di UNSW dan kini menjabat sebagai Scientia Profesor pada School of Chemical Engineering, UNSW, Sydney, dan direktur ARC Centre of Excellence for Functional Nanomaterials, Australia.

Penelitiannya meliputi particle aggregationphotocatalysis dan functional nanomaterials, serta aplikasinya dalam pengendalian polusi air dan kualitas udara, teknologi energi bersih dan berkelanjutan, dan bioteknologi. Untuk melihat kelompok penelitiannya, sila tengok http://www.pcrg.unsw.edu.au. Untuk melihat daftar publikasinya, kunjungi http://www.pcrg.unsw.edu.au/staff/publication/rose.pdf.

HG, 18-07-2014

Edy Tri Baskoro dan Teori Graf

Ada berapa banyak matematikawan di Indonesia? Hmm.. kalau dosen matematika sih banyak. Tapi, kalau yang benar-benar matematikawan, tidak banyak. Di antara yang sedikit itu, Edy Tri Baskoro adalah salah satunya. Bahkan, ia adalah yang paling berkibar karena produktivitasnya dalam penelitian, khususnya dalam bidang Teori Graf. Karya-karyanya banyak dipublikasikan di berbagai jurnal, antara lain di Utilitas Mathematics dan Ars Combinatorics.

Edy Tri Baskoro lahir di Jombang pada tahun 1964. Ia meraih gelar Ph.D. dari The University of Newcastle, Australia, pada tahun 1996. Sejak tahun 2006, ia menjabat sebagai Guru Besar dalam bidang Matematika Kombinatorika di FMIPA ITB Bandung. Pada tahun 2009, ia menerima Habibie Award untuk bidang sains dasar. Saat ini ia juga menjabat sebagai Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan, setelah kurang lebih 10 tahun terlibat sebagai anggota Badan ini.

Profil lengkap Edy Tri Baskoro dapat dilihat di situs personalnya: http://etb.maths.web.id/

HG, 11-06-2014

Sehat Sutardja dan Marvell Technology Group

Sehat Sutardja, lahir di Jakarta pada tahun 1961, adalah President, Chairman of the Board, dan Chief Executive Officer Marvell Technology Group, sebuah perusahaan yang ia dirikan bersama dengan kakaknya, Pantas Sutardja, pada tahun 1995. Namanya pernah tercantum dalam Forbes Magazine sebagai orang kaya, dengan kekayaan bersih US$ 1 billion, dan memenuhi kategori Exclusive Billionaires Club untuk pertama kalinya pada tahun 2007.

Setelah lulus dari SMA Kolese Kanisius pada tahun 1980, Sehat Sutardja melanjutkan studi di Amerika Serikat dan meraih gelar B.Sc. dalam bidang Teknik Elektro dari Universitas Negeri Iowa. Ia kemudian melanjutkan studi di Universitas California, Berkeley, dan meraih gelar M.Sc. dan Ph.D. dalam bidang Teknik Elektro dan Ilmu Komputer.

Marvell Technology Group tercatat di indeks bursa NASDAQ New York Stock Exchange dengan kode saham MRVL. Pada tahun 2004, Ernst & Young menganugerahi Sehat Sutardja dan istrinya sebagai Entrepreneur of the Year atas kegigihan mereka dalam inovasi, kepemimpinan teknologi, dan kesuksesan bisnis.

Kisah lebih lengkap mengenai Sehat Sutardja dapat dibaca di http://en.wikipedia.org/wiki/Sehat_Sutardja.

HG, 14-05-2014

Menerawang Masa Depan Indonesia

Pemilihan umum untuk anggota legislatif telah berlalu, pemilihan Presiden menanti. Seperti apa ya masa depan bangsa Indonesia 5 tahun ke depan? Apakah Pemerintah yang baru akan mengantarkan bangsa memasuki pintu gerbang yang dijanjikan dalam Pembukaan UUD RI 1945? Rasanya kita belum melalui pintu gerbang itu, ‘kan? Bahkan saat ini kita tidak melihat pintu gerbang itu ada di mana.

Berbicara tentang 5 tahun ke depan, kita memang perlu melihat apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah. Namun, bila kita berbicara tentang 10-20 tahun ke depan, siapa yang kita tengok? Menurut hemat saya, untuk bisa membayangkan nasib bangsa 10-20 tahun ke depan, tengoklah perguruan tinggi kita: apa yang dilakukan di sana, apa yang telah dihasilkan, dan apa yang sedang dikembangkan.

Lalu, bila kita ingin punya gambaran seperti apa negara kita 25-40 tahun yang akan datang, perhatikanlah anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Apakah yang sedang mereka lakukan? Syukurlah bila mereka memiliki semangat belajar yang tinggi, jangan redam keingintahuan mereka. Namun, apa yang mereka pelajari, perlu kita cermati. Masa depan bangsa ada di tangan mereka.

HG, 22-04-2014

Universitas sebagai Pusat Belajar

Budi Widianarko, Rektor Unika Soegijapranata, menulis tentang Universitas sebagai Rumah Belajar (Kompas, 1 Maret 2014 ). Beliau menekankan pentingnya pendidikan, yang merupakan dharma pertama dalam rumusan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Baiklah, kita terima itu. Pertanyaannya, pendidikan dengan kualitas seperti apa yang terselenggara di perguruan tinggi Indonesia?

Selanjutnya, kita juga perlu bertanya, apakah universitas hanya akan menjadi tempat mempelajari ilmu pengetahuan yang sudah dihasilkan orang lain? Tentunya tidak, ‘kan? Universitas harus menjadi tempat belajar bagaimana menghasilkan ilmu pengetahuan itu. Universitas semacam ini mestinya ditopang oleh dosen, fasilitas, dan interaksi dosen-mahasiswa yang berkualitas.

Di mana kah di negeri ini terdapat universitas yang merupakan Pusat Belajar seperti itu?

Berikut adalah 10 perguruan tinggi yang pantas disebut sebagai Pusat Belajar, yang telah menunjukkan bahwa dosen dan mahasiswanya tidak hanya belajar ilmu pengetahuan yang sudah dihasilkan orang lain, tetapi juga belajar bagaimana menghasilkan ilmu pengetahuan (dalam bentuk paper, bab dalam buku, dan lain-lain). Data dicuplik dari Scopus, tanggal 19-02-2014.

No

Perguruan Tinggi

Kota

Paper & Bab dlm Buku

Lainnya

Total

1.

Institut Teknologi Bandung

Bandung

1757

1602

3359

2.

Universitas Indonesia

Depok

1951

1004

2955

3.

Universitas Gadjah Mada

Yogyakarta

1295

404

1699

4.

Institut Pertanian Bogor

Bogor

1037

223

1260

5.

Institut Teknologi Sepuluh November

Surabaya

525

382

907

6.

Universitas Diponegoro

Semarang

456

160

616

7.

Universitas Airlangga

Surabaya

475

65

540

8.

Universitas Padjadjaran

Bandung

433

128

561

9.

Universitas Hasanuddin

Makassar

419

96

515

10.

Universitas Brawijaya

Malang

405

93

498

HG, 10-03-2014

Kreasi yang Tak Lazim**

Seruan untuk Generasi Muda Indonesia

Oleh: Zulkaida Akbar*

Black Mountain College, didirikan pada tahun 1933 di North Carolina USA menjadi satu titik penting dalam sejarah pendidikan di Amerika. Black Mountain College (BMC) didirikan dengan semangat perlawanan terhadap model pendidikan tradisional Amerika saat itu. BMC mendidik siswanya dengan semangat kebebasan, lintas disiplin, seni, tidak memisahkan antara bekerja dan bermain, serta hubungan egaliter antara guru dan siswa dimana guru dan siswa sama-sama bekerja dalam mengurus kampus (bangunan, administrasi, hingga makan siang).

Meski kini Black Mountain College tak lagi ada, namun jejaknya tertoreh cukup dalam pada sejarah perkembangan seni di Amerika. Puluhan seniman, penulis, pemikir dan penyair ternama dihasilkan oleh College yang bahkan tak pernah terakreditasi serta dijalankan dengan anggaran minim ini.

Black Mountain College adalah salah satu hasil “kreasi yang tak lazim”. Sepanjang sejarah peradaban manusia, berderet kreasi yang tak lazim dengan berbagai rupa: sistem, teknologi, kepemimpinan politik, artefak, hingga pemikiran. Umumnya, kreasi tak lazim ini lahir dari kejenuhan atau kebuntuan. Namun, ada pula yang dihasilkan oleh seorang jenius yang mampu meneropong masa depan. Beberapa dari kreasi yang tak lazim ini menjadi kontroversi sesaat dan lantas lenyap. Beberapa lainnya, mampu menjadi solusi atas persoalan di masyarakat, dan segelintir di antaranya bahkan mampu menghela arah peradaban.

Lantas, ada satu pertanyaan yang mengemuka di benak saya : ada berapa banyak kreasi yang tak lazim di Negeri Indonesia kita tercinta? Kalau rentang waktunya adalah satu abad, kita masih menemukan banyak hal seperti Madilog, Indonesia Menggugat, Taman Siswa, Syarekat Islam, Tetralogi Pulau Buru, Pancasila, gaya kepemimpinan Sultan HB IX, dan sebagainya. Kalau saya perpendek rentang waktunya menjadi 20 tahun terakhir, yang muncul otomatis di benak saya hanyalah N-250 dan visi negara kepulauannya Habibie. Sementara di luar sana, bermunculan banyak kreasi tak lazim mulai dari facebook hingga mesin puluhan trilyun bernama Large Hadron Collider (LHC).

Kita tahu bahwa negara kita dirundung persoalan pelik, dan persoalan luar biasa tak bisa diatasi dengan cara biasa. Singkat kata, negara kita memerlukan banyak sekali kreasi yang tak lazim. Lantas, dari mana orang-orang yang mampu menciptakan kreasi yang tak lazim (kita sebut saja sang pendobrak) berasal?

Steve Jobs, memberi judul “Connecting The Dots” pada pidatonya di depan wisudawan Stanford. Steve Jobs bercerita tentang riwayat hidupnya sambil menekankan beberapa titik dalam perjalanan hidupnya yang mempengaruhi kiprahnya dalam perusahaan dan industri komputer. Contohnya adalah satu kelas yang mengajarkan tipografi yang pernah diambil Steve Jobs yang akhirnya mempengaruhi bentuk PC seperti yang kita kenal saat ini.

Mahasiswa Fisika tahu betul bahwa saat belajar relativitas khusus, hampir semua buku mengawalinya dengan konsep tentang sinkronisasi waktu, dilanjutkan dengan banyak ilustrasi yang mengambil latar gerbong kereta. Ternyata, hal ini berasal dari pengalaman hidup Einstein yang sering melewati stasiun dengan Jam besar yang harus selalu disetel ulang agar selalu presisi. Singkat cerita, kita tidak pernah tahu di penggal kisah hidup sebelah mana pada diri seseorang yang menjadi “titik ungkit” bagi kiprahnya di masa depan sebagai sang pendobrak.

Terkadang, ciri-ciri sang pendobrak bisa “diterawang” sejak dini. Saya teringat, meski lamat-lamat akan perkataan seorang fisikawan yang mengatakan bahwa seseorang yang belum memiliki “masterpiece” sebelum usia 30 tidak akan pernah memiliki masterpiece seumur hidupnya. Atau dengan kata lain, seseorang yang menjalani 30 tahun pertama hidupnya dengan lurus-lurus saja, selamanya akan menjadi orang-orang biasa saja. Benarkah?

Memang ada beberapa kisah yang menguatkan pernyataan fisikawan di atas. Jauh sebelum menjadi orang terkaya, ketika kuliah Bill Gates pernah menulis algoritma “pancake sorting” yang menjadi algoritma tercepat, membentuk perusahaan bersama Paul Allen saat 17 tahun serta membantu menulis program penjadwalan kelas dimana Bill Gates selalu menempatkan dirinya di kelas yang dipenuhi gadis-gadis menarik. Pencapaian-pencapaian kecil inilah yang turut membentuk karya besar Bill Gates : Microsoft.

Negara Indonesia membutuhkan banyak sekali sang pendobrak dari berbagai bidang, kendati demikian sampai detik ini saya belum bisa merumuskan dengan lugas seperti apakah garis perjalanan hidup yang mampu melahirkan sang pendobrak?

Karenanya, saya ingin mengakhiri tulisan singkat ini dengan satu nasihat untuk generasi muda : Bertindaklah! karena kita tidak pernah tahu bagian mana dari kisah hidup kita yang akan mengantarkan kita menjadi sang pendobrak. Bergumullah dengan paper sejak dini jika ingin menjadi ilmuwan pendobrak dikemudian hari, jangan takut berpetualang dari satu simposium ke simposium lain! Berdaganglah sejak awal jika ingin menjadi pebisnis hebat yang akan menggerakan perekonomian bangsa! Menyelamlah ke dalam pertarungan-pertarungan politik jika ingin menjadi politisi lihai dan handal (asal lakukan dengan tanpa mengesampingkan moralitas). Dan berbuatlah untuk lingkungan sekitar, dalam bentuk apapun jika kelak ingin menjadi Negarawan Pendobrak! Jangan tunggu hingga lulus, atau mendapat pekerjaan mapan karena bisa jadi tanpa sadar waktu yang menjadi “titik ungkit” bagi calon sang pendobrak telah terlewati sia-sia.

*Zulkaida Akbar adalah Alumnus Program S1 Fisika ITB Angkatan 2003. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa program Doktoral bidang Fisika di Florida State University.

**Tulisan ini diterbitkan di VicaraVeritas.com pada 28-01-2014

Mengapa Orang Harus Mempunyai Cita-Cita**

Tulisan ini ditujukan kepada anak-anak sekolah dasar usia 10-12 tahun.

Oleh: Nisa Faridz*

Mengapa kita harus belajar? Mengapa kita harus rajin membaca? Mengapa kita harus disiplin dan tepat waktu? Mengapa perlu belajar bahasa asing (misalnya bahasa Inggris)?

Jawabannya: karena kita punya cita-cita.

Coba pikirkan apa cita-citamu. Kalau masih bingung apa cita-citamu, Kakak beri contoh cita-cita sahabat Kakak ya. Namanya Indri dan ketika SD ia bercita-cita menjadi dokter hewan. Ia suka sekali binatang. Suatu hari ia menonton TV yang menyiarkan bagaimana dokter hewan menyelamatkan seekor macan Sumatra di kebun binatang, dan Indri pun terinspirasi: “€œAku ingin menjadi dokter hewan seperti itu,” ujarnya.

Seperti Indri, seringkali cita-cita kita dipengaruhi oleh sekitar kita: apa yang kita saksikan di TV, orang-orang hebat di sekitar kita, atau tokoh yang kita baca di koran. Ada yang bercita-cita menjadi guru seperti ayahnya, ada juga yang ingin menjadi atlet yang mengangkat piala kemenangan dan mengibarkan merah putih, seperti yang kita lihat di TV.

Kalau masih bingung mau jadi apa ketika kamu besar nanti, coba juga kunjungi museum, baca buku atau komik tentang tokoh ilmuwan dan penjelajah dunia, pilih film atau siaran TV yang menceritakan perjuangan orang mencapai cita-cita; biasanya itu akan membantu menemukan cita-citamu. Guru di sekolah pun mungkin bisa membantu mencari inspirasi itu.

Tetapi tunggu dulu, apakah cita-cita perlu dipikirkan sekarang, sejak SD atau SMP?

Sejak kecil Indri rajin belajar dan membaca berbagai buku dan majalah, terutama tentang kehidupan binatang. Ia diajarkan ibunya bahwa untuk mencapai cita-citanya, syarat pertamanya adalah harus membaca yang banyak. Membaca itu harus dilatih. Jika tidak dibiasakan membaca berbagai buku sejak kecil, ketika dewasa kita akan kesulitan untuk membiasakan diri membaca. Dan kalau malas membaca, pasti Indri sulit untuk lulus kuliah dan bisa-bisa cita-citanya menjadi dokter hewan pun gagal diraih.

Menjadi dokter hewan pasti susah, pikir Indri. Aku tidak hanya harus pintar, tetapi harus berani. Bayangkan kalau aku takut macan, bagaimana bisa aku membantu macan yang sakit jika aku tidak berani dekat-dekat macan? Indri pun mencari cara bagaimana agar ia terlatih untuk menjadi pemberani.

Sejak ia bercita-cita menjadi dokter hewan, Indri juga terdorong untuk belajar bahasa Inggris. Apa hubungannya? Ia suka mencari informasi di Internet, cerita tentang dokter hewan dan binatang-binatang di Afrika, atau bahkan di Kutub Utara. Cerita yang didapatnya banyak ditulis dalam bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia. Maka Indri pun mulai belajar bahasa Inggris.

Nah, sampai sini terbayang kan bagaimana pentingnya cita-cita? Cita-cita Indri membuatnya menjadi lebih semangat belajar. Iapun tidak pernah bingung bagaimana memanfaatkan waktu liburannya. Ia pergi ke kebun binatang, menawarkan diri untuk bekerja sukarela membantu petugas di sana merawat binatang, belajar bahasa Inggris, dan iapun sering pergi ke perpustakaan dan museum. Cita-cita sangat membantu kita mengisi hari-hari dengan kegiatan yang berguna.

Lalu, bagaimana kalau cita-cita kita berubah?

Tidak apa-apa. Indri sekarang sudah berusia empat puluh tahun, mungkin seusia orangtuamu. Profesinya bukan dokter hewan. Ia adalah seorang arsitek. Apakah ia gagal mencapai cita-citanya? Tidak. Semangatnya untuk mencapai cita-cita tidak pernah padam walaupun ia tidak jadi kuliah di fakultas kedokteran hewan. Karena sejak kecil selalu antusias belajar, Indri menjadi arsitek yang sukses. Saat ini Indri merancang kebun binatang, seperti yang diimpikannya ketika kecil.

Jadi, jangan takut dan jangan ragu untuk mempunyai cita-cita. Sebaliknya, kita harus punya cita-cita. Dengan cita-cita, kita jadi lebih mengerti mengapa kita harus rajin membaca buku dan berita, mengapa kita harus disiplin, bahkan harus menjaga kesehatan. Cita-cita akan membantu kita lebih semangat belajar, lebih berani, dan tidak mudah menyerah.

Suatu hari ayah saya mengatakan: “œSimpan cita-citamu dalam hati, jangan pernah dilupakan. Mungkin ia tidak akan tercapai dengan cepat dan mudah, tetapi kamu harus yakin suatu saat kamu akan berhasil.”

Kakak yakin, suatu saat kamu pasti akan berhasil mencapai cita-citamu!

*Nisa Faridz adalah mahasiswa doktoral dalam bidang administrasi dan kebijakan pendidikan di State University of New York, Albany, Amerika Serikat. Awalnya ia adalah seorang guru SD, lalu beralih menjadi pengajar untuk calon guru dan fasilitator untuk pengembangan sekolah dan profesi keguruan.

**Tulisan ini dimuat di anakbertanya.com, 17-01-2014

Tidak Ada Solusi Khusus bagi Masalah Pemuda di Indonesia

Sebuah Refleksi di Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2013

Oleh: Uruqul Nadhif Dzakiy*

Data Badan Pusat Statistik (BPS) seperti yang diberitakan Kompas hari ini (28/10/2013) menunjukkan kelompok usia produktif berusia 15-65 tahun meningkat 17,1 persen dalam waktu 15 tahun ke depan. Sensus BPS tahun 2010 mencatat, penduduk Indonesia kelompok 0 sampai 14 tahun sebesar 28,8 persen dari mereka yang berumur 15 sampai 39 tahun sebesar 32,3 persen. Jadi lebih dari 60 persen dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia berumur 40 tahun.

Teringat ungkapan Bung Karno “… Beri aku 10 orang pemuda niscaya akan kugoncangkan dunia” yang menunjukkan bahwa pemuda memiliki harapan yang luar biasa besar dari kemajuan suatu bangsa. Peristiwa-peristiwa heroik di negeri ini juga banyak didalangi oleh orang-orang muda seperti kepemimpinan Jenderal Besar TNI, Soedirman saat melawan tentara sekutu di Ambarawa pada beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan. Ketika itu, Soedirman berusia 29 Tahun. Hal heroik serupa juga dilakukan oleh sekelompok pemuda pada penculikan Soekarno-Hatta menjelang proklamasi kemerdekaan yang umum dikenal sebagai peristiwa rengasdengklok.

Seiring berjalannya waktu, kiprah pemuda di negeri ini cenderung redup. Puncak pergerakan pemuda yang heroik ada pada reformasi 1998 dimana Pemerintahan Soeharto yang korup dan menindas berhasil digulingkan. Penggulingan rezim Orde Baru merupakan tujuan utama pemuda yang mayoritas didominasi mahasiswa. Nasib bangsa tetap dibebankan pada kaum tua. Komposisi orang tua tetap mendominasi keberlanjutan roda kepemimpinan negeri ini. Hal tersebut menandakan bahwa pemuda belum punya kuasa untuk memimpin bangsa yang besar ini. Pemuda belum punya visi bersama untuk merealisikan visi bangsa yang tertuang dalam amanat UUD 1945.

Mahasiswa Sebagai Bagian dari Pemuda

Seorang peneliti politik, Burhanuddin Muhtadi, seperti yang diungkap di kompas hari ini (28/10) mengungkapkan bahwa generasi muda Indonesia saat ini punya pendidikan lebih baik, cakrawala lebih luas, dan mimpi lebih tinggi. Mereka lebih produktif dan lebih siap menanti tantangan masa depan. Mereka bisa menjadi generasi emas jika perkembangannya tak banyak direcoki kaum tua. Ketika negara maju mengalami masalah penuaan penduduk, Indonesia justru menuai bonus demografis dengan meningkatnya jumlah penduduk usia muda.

Sebelum Anda mengamini ungkapan Burhanuddin diatas, sejenak kita telusuri kondisi pemuda Indonesia hari ini. Saya tidaklah menggambarkan pemuda secara umum, namun saya ambil bagian utama bagi pemuda yakni mahasiswa. Mahasiswa saat ini terkotak-kotak dalam berbagai tujuan dan keinginan. Mahasiswa tidaklah satu. Kemahasiswaan antar kampus menjadi semacam negara. Ada birokrasi khusus jika suatu kemahasiswaan ingin bertemu dan berkolaborasi dengan kemahasiswaan lainnya.

Biarpun muncul berbagai upaya menyatukan pergerakan mahasiswa seperti halnya Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) namun realisasinya, pergerakan mahasiswa semakin kehilangan roh. Hal itu disebabkan oleh berbagai kemungkinan seperti mahasiswa mulai tergabung dalam politik praktis, miskin gagasan, atau sejatinya pergerakan semacam saat ini (aksi turun ke jalan dan audiensi dengan pejabat yang terlibat) sudah tidak lagi diminati mahasiswa secara umum.

Mahasiswa semakin individualis. Mahasiswa tidak lagi memikirkan nasib bangsa. Mahasiswa tidak lagi ingin berdialog seputar permasalahan bangsa. Mahasiswa semakin berfikir transaksional saat belajar di kampus. Mahasiswa semakin matrealistik dimana pergerakan yang tidak mendapatkan keuntungan secara pribadi wajib dijauhi. Mahasiswa sudah memasuki zona nyaman atau terhanyut dalam derasnya arus globalisasi yang didalangi oleh Barat. Mahasiswa semakin kehilangan identitas kebangsaannya. Nasionalisme berbangsa hanya dipandang sekedar peringatan 17 Agustus 1945 atau ketika Timnas bola Indonesia sedang berhadapan dengan negara lain di sebuah kompetisi resmi FIFA. Begitulah kiranya gambaran kondisi mahasiswa saat ini yang saya dapatkan dari berbagai kepala. Masih setujukan Anda dengan ungkapan Burhanuddin di atas?

2045, Indonesia Menjadi Negara Maju?

Indonesia 2045 nanti diprediksi akan memiliki piramida penduduk yang sangat ideal. Dimana 70% penduduk Indonesia berada pada usia produktif dengan usia berkisar 25-45 tahun. Inilah yang dinamakan jendela demografi (demographic window). Hendra Gunawan (Staff Pengajar Matematika ITB) menilai bahwa hal tersebut bisa berdampak setidaknya tiga kemungkinan yaitu bonus demografi, statis atau tidak ada perubahan, atau malah menjadi kutukan demografi. Jika ingin sebagai bonus demografi, menurut Hendra, Indonesia harus segera menggarap berbagai bidang [1]. Selain itu, pada 2045, Indonesia diproyeksi menjadi salah satu dari 7 kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan perkapita USD 47.000. Saat ini pendapatan perkapita Indonesia mencapai USD 4.000 [2]. Banyak pejabat menanggapi bahwa dengan tumbuhnya ekonomi yang besar di tahun 2045, Indonesia akan beralih status dari negara berkembang menuju negara maju. Jika kita rangkum maka ada rumusan jitu; Jika bonus demografi di tahun 2045 maka ekonomi kita tumbuh lebih dari sepuluh kali lipat dan Indonesia akan menjadi bagian dari negara maju.

Semudah itulah rumusan menjadi negara maju? Negara maju merupakan sebutan untuk negara yang menikmati standar hidup yang relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata (id.wikipedia.org). Kita tidak lantas setuju dengan definisi tersebut, namun setidaknya itu adalah cerminan bagi negara maju saat ini. Jika dikaitkan dengan Indonesia hari ini, sudah adakah upaya untuk mengarah ke sana? Saya katakan tidak. Pemerintah hanyalah berfokus pada data statistik atas referensi International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia yang sarat akan kepentingan mereka sebagai pengatur kebijakan finansial negara dunia ketiga.

Pemerintah juga tidak fokus pada pemajuan pendidikan seperti halnya kebebasan mimbar akademik di Perguruan Tinggi. Riset di lembaga keilmuan dan Perguruan Tinggi sangat rendah. Perguruan Tinggi hanyalah sekedar pencipta pekerja-pekerja baru di dunia industri yang didominasi oleh perusahaan asing. Undang-Undang banyak diobral untuk kepentingan suatu kelompok. Teknologi tinggi memang dirasakan di negara ini namun hanya sekedar teknologi konsumtif seperti halnya smart phone. Kekayaan alam sekedar menjadi pemuas nafsu negara besar, karena negara ini sekali lagi tidak bersiap untuk mengolah sendiri. Pekerjaan bertani dikonotasikan negatif oleh Pemerintah, padahal negara ini dikenal sebagai negara agraris. Swasembada bahan pangan hanya sekedar jargon tanpa realisasi. Negara ini semakin gencar impor bahan pangan termasuk didalamnya beras dan produk lainnya. Negara ini digempur dari banyak sisi oleh negara lain. Suara negara ini mudah sekali disetir oleh negara besar di majelis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akibat tidak beraninya negara ini menjadi negara yang mandiri. Oleh karenanya, Indonesia mustahil menjadi negara maju di tahun 2045.

Solusi Permasalahan Pemuda

Melihat permasalahan pemuda saat ini khususnya mahasiswa yang sangat kompleks, mungkin tercetus berbagai solusi pemecahnya. Orde baru menawarkan Pancasila sebagai solusi dari permasalahan bangsa, namun gagal. Pancasila dikeramatkan dan cenderung melawan logika. Solusi-solusi lain mungkin muncul dari berbagai tokoh dan pengamat. Namun pelaksanaannya berada di tangan pemerintah. Pemerintah hanya bisa bisa trial and error.

Sejauh ini bagi saya, pemerintah belum pernah berhasil merumuskan solusi permasalahan pemuda. Bagi saya, tidak ada solusi khusus bagi masalah pemuda di Indonesia hari ini. Hanya saja, pemuda Indonesia hari ini harus menjadi individu yang merdeka. Individu yang heroik, yang selalu ingin keluar dari zona nyaman. Individu yang unggul dan sanggup berkompetisi secara global. Individu yang tidak mudah puas. Individu yang sanggup mengenali dirinya masing-masing. Individu yang selalu ingin belajar. Individu yang skeptis, yang tidak mudah percaya dengan informasi-informasi yang baru diterima. Individu yang berani. Individu yang jujur. Individu yang paripurna sebagai manusia seutuhnya.

[1] http://www.itb.ac.id/news/3947.xhtml
[2] Lihat kutipan Masterplan Percepatan Pembangunan Perekonomian Indonesia (MP3EI)

*Uruqul Nadhif Dzakiy adalah mahasiswa S1 Matematika ITB angkatan 2009.

Bandung, 28-12-2013

Butet Manurung dan Sokola Rimba

Di tahun 2013 ini, ada film menarik yang tayang di bioskop: Sokola Rimba. Mendengar Sokola Rimba, nama Butet Manurung melintas di benak saya. Ya, ialah sosok yang paling “bertanggungjawab” dengan sokola yang dirintisnya sebagai bentuk pendidikan alternatif bagi orang Rimba di Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi, sejak 2003.

Lima tahun silam, tepatnya di bulan Juni 2008, saya menghadiri acara peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Gedung Indonesia Menggoegat, Bandung. Dalam acara tersebut, Butet Manurung – yang menjadi salah seorang pembicara – menceritakan pengalamannya bersama dengan anak-anak Rimba.

Terus terang, mendengarkan kisah perjuangannya di Hutan Bukit Dua Belas, saya meneteskan air mata. Rasanya saya bukan siapa-siapa dibandingkan dengannya. Bagi saya, Butet Manurung adalah sosok nyata seorang pahlawan dalam pendidikan, di tengah hiruk-pikuknya pembangunan!

Baca tulisan saya 5 tahun silam tentang perempuan yang terlahir dengan nama Saur Marlina Manurung itu:

http://hgunawan82.wordpress.com/2008/06/24/butet-manurung-a-real-hero/

HG, 24-11-2013

Sumber gambar: http://www.sokola.org/