cita-cita

Aku Suka Sejarah. Aku Bisa Jadi Apa? **

Oleh: Andi Achdian*

Kamu menyukai pelajaran sejarah? WOW! Apakah kamu juga menyukai kisah-kisah tempo dulu anggota keluargamu? Tentang Ayah dan Ibumu? Tentang Kakek dan Nenek, dan siapa saja yang lahir terlebih dahulu sehingga kamu ada di dunia ini?

Kalau sekarang kamu bertanya tentang cita-cita apa yang cocok untuk kamu yang suka pelajaran sejarah, saya pun memiliki rasa penasaran yang sama. Sungguh! Akan menjadi apa kamu di masa depan nanti?

Pertanyaanmu mendorong saya untuk membuka-buka buku di perpustakaan, membaca kisah-kisah para penemu, petualang, dan juga pemimpin besar yang namanya ada dalam catatan sejarah. Eureka! Saya girang seperti Archimedes, tetapi tidak berlari telanjang. Kebanyakan di antara orang-orang besar itu, mereka adalah orang-orang yang menyukai sejarah seperti kamu juga.

Sebagai contoh, coba kamu lihat kisah hidup Sukarno, presiden pertama dan pendiri negara Republik Indonesia. Sejak usia kanak-kanak, ia menyukai segala sesuatu bersifat sejarah. Ia suka wayang. Ia suka kisah raja-raja Nusantara. Ia pun gemar dengan cerita-cerita para raja dan kaisar di benua Eropa, nun jauh dari tempat kelahirannya. Perhatikan juga pidato-pidatonya. Sukarno tidak pernah lupa mengutip kata-kata bijak dan perbuatan tokoh-tokoh besar dalam sejarah, atau juga peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Si pencinta sejarah ini pun menjadi mahasiswa teknik yang belajar arsitektur di Bandung. Bayangkan!

Akhirnya, izinkan saya mengatakan dua hal.

Pertama, kesukaanmu terhadap sejarah membuka mata hati paling dalammu menjadi seorang manusia. Ia adalah busur dan anak panah yang membantumu membidik cita-cita yang paling jauh dan paling tinggi yang bisa kamu bayangkan. Silakan membidik apa saja. Apakah kamu ingin menjadi ilmuwan, dokter, penyair, wartawan, guru atau dosen di perguruan tinggi. Apapun.

Kedua, kecintaanmu terhadap sejarah mungkin akan menjadikanmu sebagai sejarawan profesional. Kamu akan melakukan banyak hal yang menyenangkan. Mengumpulkan surat-surat tua untuk menguak cerita masa lalu yang hilang. Mungkin itu adalah surat cinta Ayah kepada Ibumu. Mungkin juga kamu menemukan dokumen-dokumen yang jarang orang mau menyentuhnya, tetapi ternyata ia membawamu pada satu rahasia tentang riwayat penting negerimu.

*Andi Achdian adalah seorang sejarawan. Saat ini ia sedang menempuh program doktor di FIB UI.

**Tulisan ini dimuat di anakbertanya.com sebagai jawaban terhadap pertanyaan seorang anak tentang cita-cita apa yang cocok baginya yang menyukai pelajaran Sejarah.

Bandung, 29-08-2014

Advertisements

Mengapa Orang Harus Mempunyai Cita-Cita**

Tulisan ini ditujukan kepada anak-anak sekolah dasar usia 10-12 tahun.

Oleh: Nisa Faridz*

Mengapa kita harus belajar? Mengapa kita harus rajin membaca? Mengapa kita harus disiplin dan tepat waktu? Mengapa perlu belajar bahasa asing (misalnya bahasa Inggris)?

Jawabannya: karena kita punya cita-cita.

Coba pikirkan apa cita-citamu. Kalau masih bingung apa cita-citamu, Kakak beri contoh cita-cita sahabat Kakak ya. Namanya Indri dan ketika SD ia bercita-cita menjadi dokter hewan. Ia suka sekali binatang. Suatu hari ia menonton TV yang menyiarkan bagaimana dokter hewan menyelamatkan seekor macan Sumatra di kebun binatang, dan Indri pun terinspirasi: “€œAku ingin menjadi dokter hewan seperti itu,” ujarnya.

Seperti Indri, seringkali cita-cita kita dipengaruhi oleh sekitar kita: apa yang kita saksikan di TV, orang-orang hebat di sekitar kita, atau tokoh yang kita baca di koran. Ada yang bercita-cita menjadi guru seperti ayahnya, ada juga yang ingin menjadi atlet yang mengangkat piala kemenangan dan mengibarkan merah putih, seperti yang kita lihat di TV.

Kalau masih bingung mau jadi apa ketika kamu besar nanti, coba juga kunjungi museum, baca buku atau komik tentang tokoh ilmuwan dan penjelajah dunia, pilih film atau siaran TV yang menceritakan perjuangan orang mencapai cita-cita; biasanya itu akan membantu menemukan cita-citamu. Guru di sekolah pun mungkin bisa membantu mencari inspirasi itu.

Tetapi tunggu dulu, apakah cita-cita perlu dipikirkan sekarang, sejak SD atau SMP?

Sejak kecil Indri rajin belajar dan membaca berbagai buku dan majalah, terutama tentang kehidupan binatang. Ia diajarkan ibunya bahwa untuk mencapai cita-citanya, syarat pertamanya adalah harus membaca yang banyak. Membaca itu harus dilatih. Jika tidak dibiasakan membaca berbagai buku sejak kecil, ketika dewasa kita akan kesulitan untuk membiasakan diri membaca. Dan kalau malas membaca, pasti Indri sulit untuk lulus kuliah dan bisa-bisa cita-citanya menjadi dokter hewan pun gagal diraih.

Menjadi dokter hewan pasti susah, pikir Indri. Aku tidak hanya harus pintar, tetapi harus berani. Bayangkan kalau aku takut macan, bagaimana bisa aku membantu macan yang sakit jika aku tidak berani dekat-dekat macan? Indri pun mencari cara bagaimana agar ia terlatih untuk menjadi pemberani.

Sejak ia bercita-cita menjadi dokter hewan, Indri juga terdorong untuk belajar bahasa Inggris. Apa hubungannya? Ia suka mencari informasi di Internet, cerita tentang dokter hewan dan binatang-binatang di Afrika, atau bahkan di Kutub Utara. Cerita yang didapatnya banyak ditulis dalam bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia. Maka Indri pun mulai belajar bahasa Inggris.

Nah, sampai sini terbayang kan bagaimana pentingnya cita-cita? Cita-cita Indri membuatnya menjadi lebih semangat belajar. Iapun tidak pernah bingung bagaimana memanfaatkan waktu liburannya. Ia pergi ke kebun binatang, menawarkan diri untuk bekerja sukarela membantu petugas di sana merawat binatang, belajar bahasa Inggris, dan iapun sering pergi ke perpustakaan dan museum. Cita-cita sangat membantu kita mengisi hari-hari dengan kegiatan yang berguna.

Lalu, bagaimana kalau cita-cita kita berubah?

Tidak apa-apa. Indri sekarang sudah berusia empat puluh tahun, mungkin seusia orangtuamu. Profesinya bukan dokter hewan. Ia adalah seorang arsitek. Apakah ia gagal mencapai cita-citanya? Tidak. Semangatnya untuk mencapai cita-cita tidak pernah padam walaupun ia tidak jadi kuliah di fakultas kedokteran hewan. Karena sejak kecil selalu antusias belajar, Indri menjadi arsitek yang sukses. Saat ini Indri merancang kebun binatang, seperti yang diimpikannya ketika kecil.

Jadi, jangan takut dan jangan ragu untuk mempunyai cita-cita. Sebaliknya, kita harus punya cita-cita. Dengan cita-cita, kita jadi lebih mengerti mengapa kita harus rajin membaca buku dan berita, mengapa kita harus disiplin, bahkan harus menjaga kesehatan. Cita-cita akan membantu kita lebih semangat belajar, lebih berani, dan tidak mudah menyerah.

Suatu hari ayah saya mengatakan: “œSimpan cita-citamu dalam hati, jangan pernah dilupakan. Mungkin ia tidak akan tercapai dengan cepat dan mudah, tetapi kamu harus yakin suatu saat kamu akan berhasil.”

Kakak yakin, suatu saat kamu pasti akan berhasil mencapai cita-citamu!

*Nisa Faridz adalah mahasiswa doktoral dalam bidang administrasi dan kebijakan pendidikan di State University of New York, Albany, Amerika Serikat. Awalnya ia adalah seorang guru SD, lalu beralih menjadi pengajar untuk calon guru dan fasilitator untuk pengembangan sekolah dan profesi keguruan.

**Tulisan ini dimuat di anakbertanya.com, 17-01-2014

Cita-Cita dan “Role Model”

Sering berinteraksi dengan anak-anak usia sekitar 10-15 tahun? Coba tanya mereka, apa cita-citanya. Dengan cepat mereka mungkin akan menjawab: dokter, insinyur, artis, atau Presiden. Kadang-kadang ada juga yang bercita-cita menjadi guru atau profesor. 😉

Rasanya melegakan bila anak-anak mempunyai cita-cita. Tapi, bila mereka bercita-cita menjadi dokter, misalnya, dokter sehebat apakah sih yang mereka bayangkan? Insinyur apa dan sehebat apa? Bahkan menjadi Presiden pun, sosok Presiden mana yang mereka bayangkan — karena kita tahu tidak semua Presiden bagus.

Singkat kata, kalau mereka hanya menyebutkan jenis pekerjaannya, tanpa ada kejelasan sehebat apa, mereka kemungkinan akan mendapat pekerjaan tersebut, tapi pada dasarnya mereka akan menjadi seperti orang kebanyakan.

Mempunyai cita-cita itu bagus, tapi coba tanya mereka lebih jauh: siapa role model mereka? Role model adalah orang hebat yang mereka idolakan, yang menginspirasi mereka. Bila mereka ingin menjadi insinyur, misalnya, siapakah idolanya? Mungkin B.J. Habibie? Apa karya keinsinyurannya yang istimewa — anak harus punya alasan mengapa ia mengidolakan beliau. Dengan begitu, anak tahu apa konsekuensinya: ia harus belajar sekeras apa untuk mewujudkan cita-citanya menjadi insinyur seperti B.J. Habibie.

Nah, bila anda berjumpa dengan anak-anak, mungkin anak anda sendiri, coba tanya: siapa role model-nya? Jangan-jangan ia tidak punya role model. Bila demikian adanya, mungkin tugas kita sebagai orang dewasa untuk membuka wawasannya tentang orang-orang yang telah “membuat dunia ini berputar” dan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang tersebut.

Mulai sekarang, tampaknya kita sebagai orang dewasa juga harus mulai mikir-mikir, siapa orang hebat di sekitar kita — dalam bidang sains, teknologi, kedokteran, ilmu sosial, seni, olahraga, dlsb. Make sure that they are really great, not just an average. Negeri ini butuh banyak orang-orang hebat, bila mungkin pada skala dunia, yang dapat menjadi role model bagi anak-anak!

HG, 13-04-2013

Tulisan yang sama diunggah di http://hgunawan82.wordpress.com pada 09-04-2013